Menguak Keagungan Pernikahan Adat Batak: Panduan Lengkap Tahapan dan Maknanya

Pernikahan adat Batak adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang paling kaya, kompleks, dan penuh makna. Dikenal dengan prosesinya yang panjang, meriah, dan melibatkan seluruh kerabat dari kedua belah pihak, pernikahan adat Batak bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga pengikat tali silaturahmi antar keluarga besar (marga). Bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan adat Batak, memahami setiap tahapan adalah kunci untuk menjalani prosesi dengan khidmat dan penuh rasa syukur.

Artikel ini akan menguraikan secara lengkap langkah-langkah utama dalam pernikahan adat Batak, mulai dari persiapan awal hingga prosesi puncaknya. Memahami setiap tahapan tidak hanya membantu kelancaran acara, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

1. Persiapan Awal: Merajut Benang Silaturahmi

Sebelum kedua mempelai resmi menjadi suami istri, serangkaian tahapan awal yang bersifat pengenalan dan kesepakatan harus dilalui. Tahapan ini sangat krusial dalam membangun fondasi hubungan antar keluarga.

a. Marhata Sinamot (Musyawarah Mahar)

Ini adalah salah satu tahapan paling penting dan sering kali paling rumit. Marhata Sinamot adalah pertemuan antara keluarga calon pengantin pria dan wanita untuk membicarakan jumlah mahar (sinamot) yang akan diberikan. Pembicaraan ini tidak hanya mengenai uang, tetapi juga mencakup kesepakatan tentang biaya pesta, jumlah ulos yang akan diberikan, dan hal-hal terkait lainnya. Musyawarah ini dipimpin oleh para tetua adat dan harus mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak.

b. Manjalo Tanda Mata / Marhori-hori Dinding (Tukar Cincin/Pengikat Janji)

Setelah kesepakatan sinamot tercapai, biasanya dilanjutkan dengan Manjalo Tanda Mata atau Marhori-hori Dinding. Pada tahap ini, calon pengantin wanita akan memberikan tanda mata (cincin atau benda berharga lainnya) kepada calon pengantin pria, begitu pula sebaliknya. Ini adalah simbol pengikat janji di antara kedua belah pihak bahwa mereka serius untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Prosesi ini umumnya dilakukan secara tertutup dan disaksikan oleh keluarga inti.

2. Martumpol dan Pemberkatan: Ikrar Sakral di Hadapan Tuhan

Tahapan ini adalah peneguhan janji secara gerejawi atau spiritual, yang sangat penting bagi mayoritas masyarakat Batak yang beragama Kristen.

a. Martumpol (Ikat Janji di Gereja)

Martumpol adalah prosesi ikatan janji atau tunangan secara gerejawi. Calon pengantin akan mengucapkan janji di hadapan pendeta dan jemaat gereja bahwa mereka akan menikah dan siap menerima berkat. Prosesi ini berfungsi sebagai pengumuman resmi dari gereja tentang rencana pernikahan mereka, serta memberikan kesempatan bagi jemaat untuk memberikan masukan jika ada halangan yang diketahui. Setelah Martumpol, pasangan sudah dianggap sebagai “calon suami istri” secara rohani.

b. Pemberkatan Nikah (Pamasu-masuon)

Inilah inti dari pernikahan secara spiritual. Pemberkatan nikah dilakukan di gereja atau tempat ibadah lainnya oleh pendeta. Dalam prosesi ini, pasangan secara resmi diberkati dan dinyatakan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan. Pendeta akan memberikan nasihat-nasihat pernikahan berdasarkan ajaran agama, dan keluarga serta jemaat akan turut mendoakan kebahagiaan pasangan.

3. Pesta Adat (Ulaon Unjuk): Puncak Kemegahan Budaya

Inilah momen puncak dari seluruh rangkaian pernikahan adat Batak yang dikenal sangat meriah dan melibatkan banyak orang. Pesta adat (sering disebut Ulaon Unjuk atau Alatan Bolon) adalah perwujudan dari seluruh kekayaan budaya Batak.

a. Penyambutan Tamu dan Kedatangan Hula-hula

Pesta dimulai dengan penyambutan tamu-tamu, terutama para Hula-hula (keluarga pihak istri atau perempuan dalam marga pengantin pria), yang merupakan pilar penting dalam adat Batak. Kedatangan Hula-hula disambut dengan penghormatan tinggi, seringkali dengan tarian dan iringan musik tradisional.

b. Manjalo Pasu-pasu Sian Hula-Hula (Menerima Berkat dari Hula-Hula)

Setelah seluruh tamu, terutama Hula-hula, berkumpul, pasangan pengantin akan duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian, para Hula-hula akan satu per satu maju untuk memberikan berkat (pasu-pasu) dan nasihat kepada kedua mempelai. Ini adalah momen yang sangat sakral, di mana restu dan doa dari pihak Hula-hula disampaikan untuk kebaikan rumah tangga yang baru.

c. Manortor dohot Mangulosi (Menari dan Memberi Ulos)

Ini adalah bagian paling dinamis dan ikonik dari pesta adat Batak. Seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak akan menari bersama (manortor) diiringi musik gondang Batak. Dalam prosesi ini, Ulos (kain tenun tradisional Batak) akan diberikan kepada kedua mempelai oleh berbagai pihak keluarga, terutama oleh para Hula-hula. Setiap jenis Ulos memiliki makna dan fungsi yang berbeda-beda, seperti Ulos Hela (untuk menantu pria), Ulos Pansamot (untuk orang tua pengantin wanita), dan lain sebagainya. Pemberian Ulos adalah simbol doa restu, harapan, dan perlindungan.

d. Panjoloan Tudu-tudu Sipanganon dohot Jambar (Pemberian Makanan Adat dan Pembagian Daging)

Setelah sesi Mangulosi, keluarga pengantin pria akan menyajikan tudu-tudu sipanganon, yaitu sajian makanan adat, biasanya daging babi atau kerbau, yang telah diolah secara khusus. Sajian ini melambangkan kemakmuran dan rasa syukur. Setelah itu, akan dilakukan pembagian Jambar (bagian daging) kepada seluruh pihak keluarga yang hadir sesuai dengan kedudukan adat mereka (Hula-hula, Dongan Tubu, Boru, dll.). Pembagian Jambar adalah simbol kebersamaan dan keadilan dalam adat.

e. Panombol/Paborhat Boru (Pelepasan Pengantin Wanita)

Dalam beberapa sub-etnis Batak, ada prosesi di mana keluarga pengantin wanita secara simbolis “melepaskan” putrinya kepada keluarga pengantin pria. Ini adalah momen haru, di mana orang tua dan kerabat wanita memberikan pesan terakhir dan restu kepada putrinya yang akan memulai hidup baru.

4. Pasca-Pesta Adat: Mengikat Tali Kekeluargaan Abadi

Meskipun pesta besar telah usai, ada beberapa tahapan lanjutan yang mempererat ikatan kekeluargaan.

a. Paulak Hula-Hula (Kunjungan Balasan)

Beberapa hari atau minggu setelah pesta, pengantin baru bersama keluarga pengantin pria akan mengunjungi kembali keluarga pengantin wanita (Hula-hula). Kunjungan ini bertujuan untuk berterima kasih atas berkat dan dukungan yang telah diberikan, sekaligus mempererat silaturahmi. Dalam kunjungan ini, seringkali dilakukan acara makan bersama dan bertukar cerita.

b. Manjae (Pembentukan Rumah Tangga Mandiri)

Manjae adalah tahapan di mana pasangan yang baru menikah mulai membangun rumah tangga secara mandiri, terpisah dari orang tua. Meskipun tidak selalu berupa prosesi adat yang rumit, Manjae adalah bagian penting dari siklus hidup dalam adat Batak, menandai kemandirian pasangan dan pembentukan unit keluarga baru.

Kesimpulan

Pernikahan adat Batak adalah sebuah mahakarya budaya yang melibatkan tidak hanya kedua mempelai, tetapi juga seluruh silsilah keluarga besar. Setiap tahapan, mulai dari musyawarah mahar hingga pemberkatan dan pesta adat yang megah, memiliki makna filosofis yang mendalam tentang kekerabatan, kehormatan, dan kebersamaan.

Melalui prosesi yang panjang dan detail ini, pasangan pengantin diajarkan untuk menghargai leluhur, menghormati peran setiap pihak dalam adat, dan memahami tanggung jawab mereka sebagai bagian dari masyarakat Batak. Pernikahan adat Batak bukan sekadar seremonial, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan, memastikan nilai-nilai luhur dan kekerabatan tetap terjaga lestari.

TAGS: Pernikahan Adat Batak, Budaya Batak, Tradisi Batak, Ulos, Sinamot, Sumatera Utara, Adat Toba, Martumpol

Menelusuri Jejak Batak: Bagaimana Peradaban Batak Tumbuh Subur di Sumatera Utara dan Berdampingan dengan Melayu?

Pendahuluan

Suku Batak, dengan segala kekhasan budaya dan sistem kekerabatannya yang kuat, merupakan salah satu kelompok etnis terbesar yang mendominasi lanskap demografi dan budaya di Provinsi Sumatera Utara. Identik dengan Danau Toba yang memukau dan pegunungan hijau yang membentang, sejarah perkembangan suku Batak di wilayah ini menyimpan kisah menarik tentang adaptasi, ketahanan, dan koeksistensi. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana masyarakat Batak mampu berkembang pesat dan mempertahankan identitasnya yang kuat di tengah-tengah geografi yang juga dihuni oleh masyarakat Melayu, terutama di daerah pesisir.

Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah asal-usul suku Batak, faktor-faktor yang mendorong penyebarannya, strategi adaptasi budaya mereka, serta dinamika interaksi yang terjadi antara masyarakat Batak dan Melayu di Sumatera Utara. Dengan memahami akar sejarah dan kekuatan budayanya, kita dapat melihat bagaimana peradaban Batak tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu pilar utama keberagaman Indonesia.

Akar Sejarah dan Asal Usul Batak

Asal-usul suku Batak seringkali dikaitkan dengan mitos dan legenda. Kisah yang paling populer adalah tentang Si Raja Batak yang konon turun di Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula, di tepi Danau Toba. Tempat ini dianggap sebagai pusat spiritual dan asal-muasal seluruh puak Batak. Secara ilmiah, para ahli sejarah dan antropologi percaya bahwa nenek moyang suku Batak adalah bagian dari gelombang migrasi bangsa Austronesia yang datang ke Nusantara ribuan tahun lalu. Mereka diperkirakan menetap di daerah pedalaman Sumatera Utara, memanfaatkan pegunungan sebagai benteng alami dari pengaruh luar.

Topografi Danau Toba dan pegunungan di sekitarnya memberikan perlindungan sekaligus isolasi, memungkinkan masyarakat Batak mengembangkan kebudayaan yang unik dan sistem sosial yang khas tanpa banyak campur tangan dari peradaban lain di masa awal. Dari Toba inilah, dipercaya bahwa keturunan Si Raja Batak kemudian menyebar dan membentuk berbagai puak atau sub-suku Batak yang kita kenal sekarang: Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak (Dairi), dan Angkola, masing-masing dengan dialek, adat istiadat, dan ciri khas budaya yang sedikit berbeda.

Dinamika Migrasi dan Penyebaran Suku Batak

Penyebaran suku Batak dari pusatnya di Toba ke berbagai penjuru Sumatera Utara didorong oleh beberapa faktor, antara lain pertumbuhan populasi, kebutuhan akan lahan pertanian baru, konflik internal, hingga aktivitas perdagangan. Seiring waktu, kelompok-kelompok migran ini membentuk komunitas baru di daerah-daerah seperti dataran tinggi Karo, Simalungun, hingga wilayah selatan yang berbatasan dengan Minangkabau (Mandailing dan Angkola).

  • Batak Toba: Tetap berpusat di sekitar Danau Toba dan terus menyebar ke dataran rendah sekitarnya.
  • Batak Karo: Bergerak ke dataran tinggi yang subur di utara Danau Toba.
  • Batak Simalungun: Menempati wilayah timur laut Danau Toba, berbatasan dengan daerah pesisir Melayu.
  • Batak Mandailing dan Angkola: Menyebar ke selatan, di mana mereka lebih banyak berinteraksi dengan budaya Minangkabau dan Islam.
  • Batak Pakpak/Dairi: Mendiami wilayah barat daya Danau Toba, dikenal dengan adat istiadat yang sangat kental.

Setiap puak mengembangkan identitasnya sendiri sambil tetap terikat pada akar Batak melalui sistem marga dan nilai-nilai luhur seperti Dalihan Na Tolu.

Strategi Adaptasi dan Kekuatan Budaya Batak

Kemampuan suku Batak untuk berkembang pesat dan mempertahankan eksistensinya tidak terlepas dari kekuatan sistem sosial dan budayanya:

1. Sistem Marga yang Kuat

Sistem marga (nama keluarga patrilineal) adalah tulang punggung masyarakat Batak. Marga tidak hanya menunjukkan garis keturunan, tetapi juga berfungsi sebagai identitas sosial, penentu hubungan kekerabatan, dan pedoman dalam adat istiadat. Hubungan antar-marga menciptakan jaringan sosial yang solid, saling membantu, dan memelihara kohesi sosial yang tinggi.

2. Filsafat Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu (Tiga Tungku Sejarangan) adalah konsep filosofi sosial yang menjadi dasar dalam setiap interaksi dan pengambilan keputusan masyarakat Batak. Konsep ini terdiri dari tiga pilar utama: Somba Marhula-hula (hormat kepada keluarga pihak istri), Manat Mardongan Tubu (hati-hati terhadap sesama marga), dan Elek Marboru (sayang kepada pihak perempuan/anak perempuan). Filosofi ini menjaga keseimbangan hubungan sosial dan memastikan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Kemandirian Ekonomi

Pada awalnya, masyarakat Batak mengembangkan sistem pertanian yang mandiri, terutama padi sawah di dataran tinggi yang subur. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi fondasi kekuatan mereka, memungkinkan mereka untuk tidak terlalu bergantung pada wilayah lain dan mempertahankan gaya hidup komunal.

4. Kekayaan Adat Istiadat dan Bahasa

Adat istiadat Batak sangat kaya dan dipegang teguh, mulai dari upacara kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Bahasa Batak (dengan dialek masing-masing puak) juga menjadi identitas kolektif yang kuat, diturunkan dari generasi ke generasi, termasuk melalui sastra lisan seperti Umpasa (pantun) dan musik tradisional.

Interaksi dan Koeksistensi dengan Masyarakat Melayu

Meskipun Batak mendominasi pedalaman dan Melayu mendominasi pesisir timur Sumatera Utara, interaksi antara kedua suku ini telah berlangsung sejak lama, terutama melalui jalur perdagangan. Masyarakat Melayu sebagai pelaut dan pedagang, seringkali menjadi jembatan antara pedalaman dengan dunia luar.

  • Perdagangan: Produk dari pedalaman seperti kemenyan, kopi, dan hasil hutan diperdagangkan ke pesisir oleh Batak, sementara barang-barang dari luar seperti garam, kain, dan peralatan logam masuk melalui pedagang Melayu.
  • Penyebaran Agama: Islam, yang dibawa oleh pedagang Arab dan Melayu, mulai menyebar ke pedalaman, terutama di wilayah Mandailing dan Angkola. Konversi agama di wilayah ini menjadi salah satu bentuk akulturasi yang paling signifikan, meskipun tidak menghapus sepenuhnya adat Batak. Banyak masyarakat Mandailing dan Angkola adalah muslim yang tetap memegang teguh marga dan adat Batak.
  • Batas Wilayah yang Fleksibel: Meskipun ada perbedaan budaya yang jelas, batas antara wilayah Batak dan Melayu seringkali cair. Di daerah perbatasan, terjadi saling pengaruh dalam bahasa, kuliner, bahkan seni pertunjukan (misalnya, beberapa elemen musik Batak dan Melayu saling memengaruhi).
  • Perbedaan dan Saling Hormat: Kedua suku ini memiliki perbedaan mendasar dalam sistem kekerabatan (patrilineal vs. matrilineal/bilateral) dan agama (Kristen dan animisme tradisional vs. Islam). Namun, selama berabad-abad, mereka umumnya hidup berdampingan dengan saling menghormati batas-batas budaya dan wilayah masing-masing. Konflik besar jarang terjadi dan seringkali bersifat lokal, bukan etnis.

Perkembangan di era kolonial, dengan pembukaan akses jalan dan jalur kereta api, serta penyebaran pendidikan modern dan agama Kristen secara lebih masif, semakin mempercepat interaksi dan mobilitas masyarakat Batak. Mereka mulai banyak bergerak ke kota-kota pesisir yang mayoritas dihuni Melayu, seperti Medan, Pematangsiantar, dan Tebingtinggi, menciptakan komposisi masyarakat yang multikultural.

Kesimpulan

Perkembangan suku Batak di Sumatera Utara adalah cerminan dari kekuatan budaya, ketahanan sosial, dan kemampuan adaptasi. Sistem marga dan filosofi Dalihan Na Tolu menjadi pilar utama yang menjaga identitas dan kohesi mereka, bahkan saat berinteraksi dengan peradaban lain seperti masyarakat Melayu. Interaksi antara Batak dan Melayu, yang sebagian besar didasari oleh perdagangan dan pertukaran budaya di wilayah perbatasan, menunjukkan pola koeksistensi yang harmonis, di mana perbedaan dihargai dan batas-batas budaya dipahami.

Hingga kini, suku Batak tetap menjadi kekuatan dinamis di Sumatera Utara, berkontribusi besar pada keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia. Kisah mereka adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah peradaban dapat tumbuh subur, mempertahankan akarnya, sambil tetap berinteraksi dan berdampingan dalam harmoni dengan kelompok masyarakat lainnya.

TAGS: Sejarah Batak, Suku Batak, Sumatera Utara, Budaya Batak, Marga Batak, Adat Batak, Melayu Sumatera, Dalihan Na Tolu

Berita Dukacita Rober Manurung (Op. Putra Doli)

Telah meninggal dunia Bapak Robert Manurung (Op. Putra Doli)/br Saragih. Abang dari Prof. Dr. Adler H. Manurung

Hari/tanggal: Senin, 14 Juli 2025 , Pukul 16.20

Alamat Duka : Jl Pematang Siantar, Lumban Ginabean Dusun XIV, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang- SUMUT.

Acara Marria Raja: Selasa, 15 Juli 2025 di Alamat duka.

Acara Adat : Rabu 16 Juli 2025 di Alamat Duka.

Dikuburkan: Kamis 17 Juli 2025 di Janjimatogu – Toba- Sumut.

Demikianlah berita duka ini kami sampaikan

Pelantikan Pada Rapat Koordinasi Seluruh Pengurus PI Cabang & Wilayah Jakarta , Bogor, Depok , Tangerang (JABODETA)

Ketua DPW PI JABODETA Bpk.Liston Manurung Mengukuhkan dan Melantik dalam rapat kordinasi seluruh pengurus PI Cabang dan Wilayah Jakarta , Bogor, Depok , Tangerang (JABODETA)

Pengukuhan pengurus DPC PI Cabang Depok, DPC PIJakarta Utara dan DPC PI Jakarta Timur.Melantik BPH DPC Cabang Jakarta Barat
– Ketua : Elon Manurung / br Samosir
– Sekretaris : Elyhot Manurung / br Simangunsong

Peserta:250 orang

Acara dimulai:Pkl 09.00 dengan Kebaktian
Berakhir: Pkl 17.00 dengan menyayikan O Tano Batak
Tempat/Lokasi: Klub Eksekutif Persada Jalan raya protokol Halim Persada Kusuma, Kp MakasarJakarta Timur.

Acara ini juga dihadiri Waketum DPP PI:DR Jenry Cardo Manurung, SE. MM,mewakili Ketua Umum PIdan undangan:
DPP PI dan Paniroi,
DPW Bekasi,
Pengurus punguan parompuaon SeJABODETABEK,
1. Patujong
2. Raja Naualu
3. Patubanban
4. Oppu Niunggul
5. Raja Sijambang
6. Soppa Oloan
7. Tuan Sogar
8. Raja Sitonggor
9.Tuan Ria

Dalam sambutannya :
1.Ketua Panitia Rudi Manurung- Terimakasih kepada seluruh Undangan yg hadir dan terimakasihkepada seluruh Donator dan panitia sehingga acara bisa terlaksana
2.Ketua DPW Liston Manurung- Selamat kepada semua pengurus Cabang yg dikukuhkan dan selamatatas dilantiknya seluruh KSB Sektor dari masing2 cabang sekaligusmengingatkan bahwa kita melaksanakan amanat organisasi PI hasilMUNAS VII yg adalah estafet dari MUNAS I, II, III, IV, V dan VI3. Ketua penasehat DPW JABODETAParlindungan Manurung- Dari kita untuk kita, kita yg melaksanakan dan kita juga yangmenikmati, bekerjalah setulus hati sesuai dengan visi misi.

Adapun Cabang yg dikukuhkan dan dilantik adalah:
– Cabang Depok
– Mengukuhkan pengurus Cabang dan melantik KSB 4 sektor/kordaJakarta Utara:
– Mengukuhkan pengurus Cabang dan melantik KSB 3 sektor/kordaJakarta Timur:
– Mengukuhkan pengurus Cabang dan melantik KSB 13 sektor/kordaDPW JABODETA:

Melantik BPH DPC Cabang Jakarta Barat
– Ketua : Elon Manurung / br Samosir
– Sekretaris : Elyhot Manurung / br Simangunsong

DPP PI mengucapkan selamat bertugas melayani seluruh anggota PI di wilayah tugasnya masing-masing, Tuhan memberkati kita semua. Manurung Sipolin polin sisada anak sisada boru. Horas, horas,horas

Pesta Partangiangan BONA TAON 2025 Punguan Patubamban Pande Sumurung Manurung Dohot Boruba Se-Jabodetabek.

Pesta Partangiangan berlangsung Minggu 9 Maret 2025 di Hotel Lumire Jakarta. Kemeriahan dan keakraban terjadi mulai dari permulaan acara hingga akhir. Acara juga dimeriahkan tokoh tokoh Manurung dan Borunya dari PATAMBOR Indonesia (PI) kepemimpinan Drs.Rusman Manurung, MP.d dan tokoh tokoh Parompuon yang ada di Manurung, lebur menjadi satu dalam kebersamaan *MANURUNG SIPOLIN POLIN SISADA ANAK SISADA BORU*.

Acara dimulai dgn Ibadah yg dipimpin Pdt JAU Doloksaribu, M.Min .

Liturgi St. Saut Manurung

Kata Sambutan :

1. Panitia : Rudy Manurung
2. BPH : Tulus Manurung
3. Penasehat : Parlindungan Manurung
4. Ketua Banualuhung Jabodetabek : Herman Manurung
5. Ketua PI Wilayah Bekasi : Sondang Manurung
6. Ketua PI Wilayah Jabodeta : Liston Manurung
7. Ketum PI Drs. Rusman Manurung, MP.d diwakili ketua I : Dr. Jenry Cardo Manurung

Undangan Penasehat PI:

1. Prof Adler Manurung ( Hutagurgur)
2. Frans Manurung (Hutagurgur)
3. GoGo Manurung ( Sibitonga)
4. Roy Manurung (Simanoroni)
5. St. Berlin Manurung (Simanoroni)

Perwakilan Parompuan sian:

1. Op.Patujong Manurung
2. Rj Naualu Manurung
3. Op. Ni Unggul Manurung
4. Raja Sijambang Manurung
5. Sompa Oloan Manurung
6. Tuan Sogar Manurung

Penyerahan penghargaan dari PI kepada Patubamban Pande Sumurung diserahkan Ketua I Dr. Jenry Cardo Manurung didampingi Ketua II Tua Doli Manurung ( kusus datang dari Medan), Ketua Dewan Paniroi : Brigjen Pol (Purn) Nixon Manurung, wakil sekretaris PI Makmur Manurung dan Liston Manurung

Serta seluruh penasihat PI dan pengurus yg hadir. Dihadiri kurang lebih 450 orang n ditutup dgn Door Price.Segenap Pengurus DPP PI mengucapkan apresiasi yg tinggi pada seluruh Pomparan Patubamban Pande Sumurung Manurung Se JABODETABEK atas Manunggalnya dengan PATAMBOR Indonesia dalam ikatan kekeluargaan.

No photo description available.

Alasan Pernikahan Adat Batak Berbiaya Mahal

Suatu pernikahan di suatu adat khususnya di Indonesia memiliki keunikan masing-masing. Hal itu juga  berlaku pada pernikahan adat Batak. Bukan hanya pada pernikahan, ada Batak memiliki berbagai keunikan di banyak aspek, mulai dari pertuturan, adat melahirkan, adat kematian, hingga adat-adat lain yang mungkin sekilas terdengar rumit.

Berikut bererapa alasan kenapa pernikahan adat batak berbiaya mahal:

1. Sinamot

Saat persiapan pernikahan adat Batak, biasanya pada acara martumpol atau tunangan, pihak mempelai pria menyerahkan sejumlah uang kepada pihak mempelai wanita. Besaran sinamot biasanya dihasilkan dari kesepakatan antara kedua belah pihak.

2. Ulos

Ulos merupakan kain khas dalam adat Batak yang dijadikan sebagai seserahan pernikahan. Selain menyerahkan sinamot kepada pihak wanita, ulos adalah salah satu hal yang wajib diserahkan oleh pihak pria.

Selain diserahkan sebelum hari H pernikahan, penyerahan ulos juga diadakan saat upacara pernikahan berlangsung. Biasanya penyerahan ulos ini dilakukan sambil manortor atau melakukan tarian adat Batak yang diiringi dengan musik dan lagu Batak pesta pernikahan.

3. Ritual wajib yang ada di acara adat.

Prosesi yang sangat panjang mulai dari pagi hari hingga sore hari yang mesti dijalani pengantin pada acara adat batak ini tentu saja sangat menguras tenaga, begitu juga dengan dana yang perlu disiapkan untuk semua rangkaian acara tsb.

Apalagi jika ada pria dari suku Batak yang ingin menikahi wanita bukan Batak, maka persiapan pernikahan Batak hingga biayanya akan lebih rumit dan mahal lagi. 

Biasanya, marga yang diberikan kepada sang mempelai wanita sama dengan marga sang ibu dari mempelai pria. Jadi nantinya sang mempelai wanita dijadikan sebagai anak angkat dari saudara laki-laki ibu sang mempelai pria (boru ni tulang atau anak perempuan tulang—saudara laki-laki ibu)

Tapi semua poin diatas akan sangat dirindukan dan sakral di adat Batak dikarenakan momen pernikahan ini adalah momen sangat penting terutama bagi pengantin. Demikianlah kami himpun beberapa alasan pernikahan adat batak berbiaya mahal.

Dibalik Sejarah Nairasaon

Legenda Nairasaon (Manurung, Sitorus, Sirait, Butar-Butar)
Datu Pejel datang dari Limbong menuju Sibisa manandang Hadatuon sembari menjalankan hobinya “Marultop”. Ia sampai ke Sibisa karena mengejar-ngejar “Anduhur”. Menyadari usianya sudah mulai makin tua, Datu Pejel melakukan semedi, memohon Kepada Mulajadi Na Bolon agar ia diberi jodoh. Tak lama setelah bersemedi, ia pun mendengar suara “Martonun”, ia pun penasaran lalu pergi melihatnya.

Ia sangat terkejut sudah lama menetap di Sibisa tapi tak pernah ia melihat orang. Ia pun menyadari bahwa Tuhan telah mengabulkan permintaannya. Perempuan ini di namai Boru Tantan Debata (“Titisan Allah”) karena Mulajadi Na Bolon lah yg mengirimnya buat Datu Pejel. Singkat cerita, Boru Tantan Debata melahirkan seorang Putra menyerupai Kodok. (Bahasa Batak asli Sirasaon). Datu Pejel tak terima anaknya seperti kodok, ia pun membuangnya ke Bara agar mati dipijak kerbau milik mereka yg dikandangkan di Bara. Inilah pertengkaran Pertama antara Datu Pejel dan Boru Tantan Debata. Boru Tantan Debata diam-diam mengambil anaknya dari Bara dan disembunyikan di Para-para rumah mereka. Setiap kali pulang dari ladang Boru Tantan Debata heran melihat kayu bakar mereka yg di jemurnya sebelum berangkat ke ladang selalu tersusun rapi. Ia pun melakukan pengintaian, siapa gerangan yg melakukan semua itu.

Namun, Boru Tantan Debata terkejut yg melakukan semua itu adalah seorang bocah yg cukup gagah (anaknya), dan setelah selesai menyusun kayu bakar ia masuk ke dalam rumah. Boru Tantan Debata pulang ke rumah seperti biasa, ia melihat anaknya masih tetap “Marruman Sirasaon”. Namun dalam hati Boru Tantan Debata sudah tahu bahwa anaknya cukup tampan. Saat usia remaja Nairasaon pun di Pertapakan Datu pejel di gunung Simanuk-manuk (sebelah timur Sibisa, sebelah kiri menuju Porsea dari Parapat). Sekembalinya dari Partapaon di simanuk-manuk Datu Pejel menyuruh Nairasaon ke limbong untuk “Mangalap Boru Ni Tulang Na”, Nairasaon pun berangkat ke Limbong.

Namun setelah sampai di Limbong,

Dari Tujuh boru Ni Tulangnya, tak satu pun yg mau menjadi istri Nairasaon karena wajahnya yg seperti kodok. Suatu sore secara kebetulan Boru Tulangnya yg paling bungsu melihat Nairasaon pergi Mandi. Ia terpesona melihat ketampanan wajah Nairasaon. Ia menyadari bahwa wajah Nairasaon hanya “Rumang” (Topeng). Hari ketiga Nairasaon pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang Tulangnya mengumpulkan ketujuh Borunya dan menanyakan satu per satu dari Boru Pertama sampai Boru ketujuh. Boru Pertama sampai Boru ke enam tidak ada yg bersedia, mereka tetap pada pendirian mereka saat pertama ditanyai orang tuanya. Sang Tulang pun menanya Boru Siampudan, Boru Siampudan pun menjawab “Naroa pe Paribankki Naroakku do i, au rade do gabe Parsonduk ni anak ni Namborukki”. Akhirnya Nairasaon pun dinikahkan dengan Boru Siampudan. Mengetahui Nairasaon cukup tampan, pada saat menjelang pesta pariban Nairasaon yg enam orang lagi menuntut kepada orang tuanya kenapa mereka “Dilangkahi” adiknya. Sang Tulang pun menjawab “Hamu do da inang na manjua, Anggim do mangoloi ba molo i naso jadi be sirangan”. Nairasaon kembali ke Sibisa dan menetap di sana. Tiba pada saatnya Istri Nairasaon melahirkan. Namun yg dilahirkan berbentuk “Lambutan” (bulat) dan kembar. Mengetahui cucunya seperti itu Datu Pejel Marah dan membuang cucunya ke Pansur Napitu.

Boru Tantan Debata marah akan sikap suaminya Datu Pejel. Ia pun bersumpah tidak akan pernah di kuburkan berdekatan, (Bukti ada sampai saat ini di Sibisa kuburan Datu Pejel dan Boru Tantan Debata di Antari lembah kecil), “Ngadua hali di bahen ho haccit rohakku, di bolongkonkko anak ku dohot pahompukku”. Ia pun menghentakkan kakinya, sambil berkata “Ingkon sirang do tanomankku dohot ho”. Esok hari Boru Tantan Debata pergi ke jurang Pansur Napitu untuk mencari cucunya yg di buang Datu Pejel. Ia terkejut mendengar suara tangisan bayi cucunya. Kilat pada malam hari itu diyakininya telah membuka “lambutan” cucunya, karena tidak tahu siapa yg duluan lahir maka kedua bayi itu di namai Raja Mardopang (bercabang) yakni Raja Mangatur dan Raja Mangarerak.

Nairasaon terus menjalankan tapanya di Simanuk-manuk. Dan tak pernah kembali lagi. Dan bagi Pomparan Nairasaon, “Simanuk-manuk di abadikan dalam Gondang Simanuk-manuk. Sebagai Gondang Pasiarhon dan Gondang Jujungan angka Nairasaon dan Boruna. Yang sampai saat ini Gondang Ini sangat populer di setiap pesta Nairasaon Khususnya Sirait.

Simanuk-manuk diabadikan dalam gondang gerak dalam tortor. Sampai saat ini hanya tinggal beberapa orang yg menguasai itu pun orang-orang yg memiliki jujungan. Diantara mereka berdua (Raja Mangatur dan Raja Mangarerak) tidak tahu siapa si Abangan dan si Adek-an sebab lahirnya pun berdampingan. Pernah dibuat dalam suatu Pesta adat Nairasaon Manortor si Raja Mangarerak di depan tetapi Ogung tak dapat berbunyi dan Raja Mangatur didepan juga Ogung tak berbunyi. Dan dibuatnya Raja Mangarerak di kanan dan Raja Mangatur di kiri barulah bunyi Ogung kedengaran.

Itulah sebabnya sering disebut Raja Mangarerak Mangatur untuk si Raja Mangarerak dan Raja Mangatur Mangarerak untuk si Raja Mangatur.

Raja Mangarerak / Br. Hutahot mempunyai 1 anak yaitu Raja Toga Manurung dan 1 Putri Br. Similingiling.

Raja Mangatur / Br. Harugasan Sagala dan punya anak 3 orang,
1. Raja Sitorus,
2. Raja Sirait,
3. Raja ButarButar

9 Nilai Budaya Batak Toba Yang Sangat Populer

Pada dasarnya budaya batak memiliki nilai budaya yang sangat kental ditemukan, antara lain:

1. KEKERABATAN
Yang mencakup hubungan premordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na ToluĀ (Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas marga dan lain-lain.

2. RELIGI
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang
mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.

3. HAGABEON
Banyak keturunan dan panjang umur. satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Ini erat hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba, bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang hutaĀ (kampung/tradisional). Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah personil yang besar. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG (seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.

4. HASANGAPON
Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan, kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.

5. HAMORAON
Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

6. HAMAJUON
Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu, Sumatra Timur dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara atau meningkatkan daya saingnya.

7. HUKUM
Patik dohot uhumĀ (aturan dan hukum). Nilai patik dohot uhum merupakan nilai yang kuat di sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang Batak.

Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup orang Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan hukum di Indonesia yang mencatat nama orang Batak dalam daftar pendekar-pendekar hukum, baik sebagai Jaksa, Pembela maupun Hakim.

8. PENGAYOMAN
Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.

9. KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.